• Home
  • About Me
  • Thought
  • Anything
    • review
    • studies
  • Favorite
    • Channel
    • books
facebook twitter instagram youtube Linkedin Email

Hello !

Alhamdulillah... Allah memberikan saya kesempatan melanjutkan pendidikan di negeri Tirai Bambu. Setelah 2 tahun berjuang dan tahun ini Allah menjatuhkan pilihannya. 

senang?? tentu saja. Namun, ada rasa khawatir dan galau jg lo. Lah... kenapa??? 
1. pendidikannya mesti bahasa mandarin
(yaaa... bahkan 1 huruf mandarin pun nggk aku tau😢)
2. belajar chinese 1 tahun kuliah smpe 3 tahun lulus udah umur 29 😱, trus ada yg bilang nikahnya kapan dong??
3. terlepas dari itu semua, bertanya ke diri sendiri. Fitri, apa kamu yakin bisa? mampu?

okay.. itu tiga point besar tentang kegalauan saat ini. Namun, karena Allah aku bisa menjawab semua pertanyaan itu.
1.  kan bisa belajar mandarin disana.
2. ini nih yang paling bikin galau. mungkin yaa klau saat ini ada yg ngelamar mungkin S2 nya di tunda 😅. tp kembali lagi sama Allah, mungkin ini jalan yg Allah kasi ke aku untuk jadi lebih baik buat jadi calon istri dan ibu yang bisa mendidik anaknya sesuai ajaran agama dan untuk bangsa, Aamiin 😊.  Trus kan teman kubilng ntr kalau S2 pada takut lamar trus udah 29 jg gimana dong. Nah, kalau misalnya si doi emang serius krn Allah masalah S2 or usia mah nggk jadi urusan, trus kalau Allah udah bilang dia jodoh aku nggk bakalan lari kemana kok, kan bisa sementara kuliah jg boleh nikah karena nggk ada ketentuannya hehehee.... so, maybe it can be happen. 😇 (btw ini versi positif thinking dari aku ya, sebnarnya dari hari pengumuman udah uring"an ngk jelas tp berusaha di terima rejeki ini mah.) 
3. Yaa, Insya Allah yakin. masa nyerah duluan padahal belum lihat yg dihadapi di depan sana apa. Toh, jika ini kehendak Allah maka semua akan sesuai apa adanya 😊. Kalau gini aja nyerah gimana Allah mau ngasih lebih..


Btw sesuai yg aku blng di point 2 ini bentuk positive thinking dari aku. dan sisi negatif itu masih ada sih, namanya jg manusia kan ya.. 

buat teman yang pengen ngasih saran atau tambahan positive vibes. silahkan.
atau gimana kalau kalian diposisi aku? reaksi dan tindakan kalian gimana?

Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman membahas mengenai hak dan kewajiban dari suami istri. Jadi, saat itu aku jawab kalau kewajiban istri itu mendengarkan suami. Nah gimana jika mendengarkan suami itu wajib, bisa jadi sang istri bakalan banyak dosa dong. Contohnya jika Istrinya lagi sibuk urus anak trus suami minta dibuatkan makanan enak, gimana dong kan nggak adil. Atau gini misal urus anak,rumah dan sebagainya itu wajib trus gimana jika perkerjaan itu dikerjakan orang lain misal asisten rumah tangga atau keluarga.

Nah, karena akunya bingung gimana jadi dia ngejelasin: 
  • Kewajiban istri itu hanya 1 yaitu “melayani suami” (ngerti lah), sedangkan masalah urus anak dan lain sebagainya itu kewajiban bersama dan jika dilakukan istri maka itu perbuatan baik sang istri.
  • Kewajiban suami terhadap istri yaitu menafkahi lahir batin semua kebutuhan hidupnya dan bukan keinginannya. Pas dengar ini, langsung deh jiwa kewanitaanku bertanya trus gimana kalau minta dibelikan skincare? Hehe. Jadi, untuk masalah perawatan tubuh istri, bukan kebutuhan hidup tapi salah satu perbuatan baik sang istri jika untuk suaminya.
  • Hak istri yaitu berhak di nafkahi dan mendapatkan apa yang diwajibkan oleh suami, dan berhak dilindungi sesuai firman Allah “Jagalah Istri dan anak mu dari api neraka”
  • Suami berhak dilayani, ditaati, dijaga hartanya dan anak anaknya serta di dengarkan selagi tidak melanggar syariat. Jadi, haknya suami tuh banyak karena tanggung jawabnya juga banyak.

Sebenarnya sampai sekarang pun masih berpikir kalau itu semua masih bisa di toleransikan sesuai kondisi kedua bela pihak, namun semakin kesini jadi lebih berpikir lagi kalau semua itu bukan hanya mengenai toleransi tapi mengenai bagaimana bertindak sesuai ajaran agama kita.

Jadi itu hasil penjelasanya, sebenarnya lumayan panjang sih tapi aku ambil intinya aja. So, bagi teman-teman yang lebih tau mengenai ini mohon diluruskan dan ditambahkan jika ada kekurangan.




Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Melepaskan memang susah, namun mempertahankan hal yang belum pasti juga sangat tidak etis karena sama saja membiarkan sisi lain mengharapkan sesuatu yg lebih. Beberapa hari yg lalu, seorang mengajarkan saya bahwa hidup tidak sepolos itu. Berteman dengan seseorang harusnya memilih yg baik, bukan karena niatnya pengen pilih" teman namun mencoba menghindari hal hal buruk terjadi. Dan setelah kejadian yang sangat mengesalkan itu terjadi, ada saja orang baik yang menjadi penolong.

Orang baik yg membantu saya melihat dari sudut pandang yg berbeda dan menyampaikan ilmu yang dia punya. Memiliki waktu yang bermanfaat dan banyak sharing menjadikan itu sebagai rutinitas. Namun, sangat tidak etis jika hal ini berlanjut meskipun isinya bermanfaat tp tetap saja diselimuti dengan keburukan ( chat dgn bukan mahram). Dia berusaha menjaga agar niat baik ini tdk menjerumuskan menjadi keburukan yg sedikit demi sedikit menumpuk. Usaha yang cukup berat membuat sy sadar jikalau masih ada orang yg berusaha menjaga itu dengan baik.

Berbagai macam diskusi km bahas, hingga tiba saatnya menyadari bahwa hal ini tidak boleh berlanjut lagi, semakin dalam pembahasan semakin terjerus kt dengan kenyamanan. Dan Berakhir dengan kata melepaskan. Meskipun semua itu sangat sulit, Kenapa???? yaa menemukan orang yg nyaman diajak diskusi, mendengarkan, dan baik, mungkin mudah tp ada kalanya tak seperti yang diinginkan.

menghindari keinginan yg akan menjadi kuat itu membuat kami harus melepaskan dan berharap semua karena Allah. Karena berharap ridho Allah, dan berusaha mengambil jalan yg lebih baik dengan menjadi lebih dekat dengan Allah.

Sedih... yaa tentu saja kehilangan orang yang mungkin menjadi pembimbing. Namun, semua kami serahkan kepada Allah. Sebaik baiknya manusia hanya bisa membuat rencana, hanya Allah yg menentukan terbaik bagi kami.

Mepertemukan kami dalam keadaan yg lebih di ridho i, dan
Semoga nasihat itu bisa menjadi amalan dan syafaat di akhirat kelak. Aamiin.


*hanya sharing yaa 😊

Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Terkadang ada hal yang tidak bisa kita handle dan mengalir begitu saja. Mungkin logika mengatakan TIDAK tapi secara tidak sadar kita mengucap YA, karena terkadang logika tak sejalan dengan hati. Sekuat apapun kita berpikir terkadang masih sulit melangkahi kekuatan hati, dan itu yang sering kali terjadi tapi selalu saja dipungkiri.

Salah satu contoh paling sering terjadi ketika salah satu teman terbaik kita sukses atau mendapat kerja atau penghargaan. Sebagai teman tentu kita akan sangat senang dan ikut merayakan kegembiraan itu, tapi tanpa kita bisa pungkiri ada rasa iri dan sedih melihat kebahagiaan itu, kenapa?  karena setiap orang selalu memikirkan kebahagian dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun, bukan berarti keirian dan kesedihan itu hal yang negatif malah sebagian orang menjadikan sebagai motivasi diri untuk bisa menggapai seperti yang dilakukan oleh temannya. Trus, kenapa dong ada rasa itu muncul? Yaa... begitulah sifat alami manusia, dan saat itulah kamu bisa menunjukkan seberapa kuat dan dewasa dirimu menghadapi itu semua. Karena tidak jarang ada yang irinya sampe nggak ketolongan maksudnya ke hal negatif seperti bergosip yang menuju fitnah ini mah nauzubillah sekali. 

Mungkin ada yang merasa tidak pernah mengalami hal ini, hmmmm..... coba deh ingat lagi apa benar tidak penah? atau hanya berusaha menyangkal? menurutku hal ini wajar aja sih, tapi bagaimana cara mengatasi dan membawanya lebih positif jauh lebih penting. 

Jadi kalau ada yang namanya kamu bakalan happy atau sedih?

Jawabnya bisa dikomentar beserta alasannya. 


*sebenarnya dari kemarin mau nulis dan semuanya hanya jadi draft hehhee.... eh, nggak taunya malah nulis ini. Hasil mumet nggak jelas malam ini.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Banyak orang yang ketika akan mengambil keputusan selalu menyiapkan cadangan. Aku salah satu dari sekian banyaknya orang itu. Ketika akan mengambil keputusan misalnya akan resign dari perusahaan atau melajutkan pendidikan. Nah, dampak dari pengambilan keputusan itu akan memunculkan si Plan B itu. Kok bisa? karena tidak ada orang di dunia ini yang ingin rugi dari setiap tindakan yang akan mereka lakukan. Meskipun tiap tindakan itu perlu pertanggung jawaban dan resiko, tapi meminimalkan resiko adalah tugas dari Plan B ini. 

Plan A, ketika akan menentukan keputusan apa yang akan diambil dan yakin jika keputusan ini memiliki potensi lebih tinggi meskipun penuh dengan resiko yang akan dihadapi. Sadar atau tidak setiap rencana A (Plan A) yang akan kamu pilih memiliki resiko yang tinggi jauh lebih tinggi dari apa yang kamu kerjakan saat ini. Trus, kok masih ada orang yang mau mengambil keputusan yang beresiko tinggi begitu. Pertanyaan ini tentu saja kamu ajukan kepada si pembuat keputusan karena dibalik semua itu ada alasan yang mendasarinya. Namun secara garis besar, semuanya mengacuh pada ketidakcocokan tempat kerja, passion nya tidak disitu dan ingin mencoba hal baru, terlepas dari ruang lingkup pribadi tiap orang. 

Nah, Karena resiko yang besar itu kamu perlu menyiapkan rencana (Plan B). Pertanyaan yang sempat aku rasa, kapan si Plan B ini beraksi? apa setelah Plan A? eh, tapi kalau Plan A gagal dan Plan B belum siap, atau lakukan diwaktu yang sama?.

Menurut pandangan dan apa yang sudah kulakukan (yaa walaupun belum tahu akan berhasil apa tidak, berdoa saja semoga berhasil Ya Allah) rencanakan keduanya di waktu yang sama, karena ketika merencanakan Plan A maka secara otomatis otak kita akan berpikir kemungkinan terburuk dari Plan A sehingga tanpa kita sadari Plan B dengan berbagai pilihan akan terbentuk dengan sendirinya namun belum dapat kita tentukan Plan B akan seperti apa dan bagaimana nantinya. Ketika Plan A sudah fix dan akan dijalankan maka selesaikan hingga mencapai setidaknya 80%, karena menurutku posisi ini sudah mencakup usaha yang dilakukan dan 20% berikut sisa menambahkan dan memperbayak doa. Pada 80% Plan A, Plan B sudah bisa beraksi sehingga tidak mengganggu usaha kita pada saat mengerjakan Plan A tadi.


Mungkin orang lain berpandangan berbeda dengan apa yang sudah aku tulis di atas itu. 
But it's okay, that's my mind and that's your mind. 
Jika orang lain menuntut kesamaan pendapat buat apa ada kata 'perbedaan'. :)
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Di umur yang sudah 1/4 abad, memiliki pemikiran yang sudah tidak biasa lagi. Berbagai pemikiran dari sederhana hingga rumit  terperangkap di otak yang kecil ini. Namun, apa pernah kamu menunjukkan isi pemikiran itu ke orang lain? Tentu saja tidak. Kenapa? Ya karena kamu tahu pemikiranmu itu bukan konsumsi publik yang bisa saja orang remehkan. Tapi, ada kok yang berbagi pemikirannya ke media, Yaa karena dia udah tahu tujuan dari pemikirannya itu emang untuk konsumsi publik, biar publik mengerti apa yang dia pikirkan dan berharap pemikirannya itu bermanfaat bagi yang lain. 

Pertanyaannya kenapa dia bisa membagikan pemikirannya sedangkan kamu tidak. Hanya ada satu jawaban untuk itu yaitu BERANI MEMULAI, karena sekeras apapun kamu berpikir dan sekuat apapun kemauanmu tapi untuk menggapai garis start aja nggak bisa, yaa nggak bakalan ada kata finish. Jadi sekarang pilihannya DO IT NOW or NEVER.

Do it now or Never sudah menjadi sihir di kepala ku beberapa pekan ini. Sejak saat itu ketika terpikir akan melakukan sesuatu pastinya akan selalu dilakukan dan mencoba yang terbaik begitupun beberapa pemikiran tentang yang terjadi saat ini. Karena pelajaran yang paling berharga adalah tindakan, entah akan berhasil atau tidak semua akan berproses sebagaimana mestinya dan pernyataan yang paling aku suka " Usaha nggak bakalan menghianati hasil". Jadi, sekeras apapun kita berusaha pasti akan ada hasil yang sesuai dengan usaha itu. Trus kalau ada yang bilang, 'lah, dia nggak usaha tapi kok bisa berhasil' Eitzz darimana kamu tahu kalau dia tidak usaha? Don't forget! Don't judge people by the cover, dia hanya tidak ingin menunjukkan usahanya itu sekeras apa dan bisa juga ada unsur "Lucky". Tapi, unsur lucky hanya ada 1 kemungkinan dan 99 kejadian, unsur ini juga akan terjadi dengan bantuan "Usaha" dari berbagai aspek.

Jangan menunggu karena menunggu nggak bakalan menghasilkan apa-apa.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Akhir bulan lalu sempat berdiskusi dengan teman dan kemudian seminggu ini lhat berita mengenai Audrey gadis yang mendapat perilaku bullying. Nah, sebenarnya seberapa penting sih pendidikan di Indonesia saat ini? Mungkin sebagian orang menanggap pendidikan penting karena bisa menaikkan derajat mereka dimata keluarga dan orang sekitar, ada untuk mendapat perkerjaan yang layak, ada juga hanya suka mengoleksi gelar, ada karena memang suka belajar dan masih banyak alasan orang untuk meraih pendidikan yang tinggi. Apa semua alasan itu dapat diterima di masyarakat? tentu saja tidak. Jika kamu berpendidikan hanya karena ingin derajat mu tinggi maka kamu akan tersaingi oleh salah satu keluarga mu yang memiliki perkerjaan yang jauh lebih baik. kemudian jika kamu ingin mendapat pekerjaan yang layak, maka jangan salah, banyak orang bergelar master degree namun tidak mendapat pekerjaan. Trus jika hanya untuk mengoleksi gelar, untuk apa gelar itu?. Karena suka belajar makanya pengen sekolah terus? sampai kapan?.

Nah, kondisi di atas beberapa tanggapan masyarakat terhadap fenomena terhadap pendidikan. Jadi untuk apa pendidikan itu? Apa pendidikan hanya dilakukan di sekolah, rumah, atau institusi?. Jika dilihat di kamus besar Indonesia, Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan perilaku untuk pendewasaan diri melalui upaya pembelajaran dan pelatihan. Jadi, pertanyaan tentang apa dan dimana pendidikan itu sudah tercakup semua berdasarkan KBBI. 

Beberapa orang selalu menganggap pendidikan harus dilakukan disekolah untuk formal dan biar dapat gelar. Pertanyaannya apa hanya sebatas gelar semata tanpa melihat dari sudut pandang perilaku dari pemilik gelar itu. Gini ya, banya diluar sana pemilik gelar tinggi tapi cara bersikapnya sangat minim. Hal ini terjadi karena pedidikan hanya dipandang sebagai ajang untuk meninggikan derajat saja. Seperti beberapa kasus yang terjadi, tidak hanya Audrey tpi beberapa tindakan kekerasan sexual, bullying dan kriminal lainnya terjadi di sekolah, salah satu sarana pendidikan berlangsung.  Peristiwa memilukan ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadapt pendidikan di Indonesia, dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengartikan pendidikan itu. Kok bisa? yaa, karena sekolah sebagai sarana pendidikan mewajibkan siswanya belajar formal dan jika tidak mampu maka di anggap "bodoh" kemudian si siswa akan merasa dirinya bodoh, dan untuk menungkapkan kebodohannya itu mereka melakukan berbagai macam cara untuk menunjukkan jika dia bodoh maka tidak ada salahnya melakukan hal itu (tindakan kekerasan). Tindakan merendahkan ini yang mungkin dianggap sepele tapi akan berdampak besar dikemudian hari. 

Diatas semua itu, hargailah orang yang memiliki pendidikan yang lebih baik (gelar) karena percayalah meskipun perilaku orang tersebut jauh dari kata berpendidikan tapi usaha untuk mencapai pendidikan tinggi (gelar) itu tidaklah mudah. Meskipun ada sebagian orang berpendapat jika pendidikan (gelar) itu dapat dibeli maka berpikirlah lagi jika uang yang mereka gunakan untuk membeli pendidikan (gelar) itu merupakan hasil dari orang yang bependidikan sebelumnya juga dan kerja keras mereka. So, don't waste your time for judge any people. May be they have what you don't have.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Sometimes later becomes never.
Do it Now

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • linkedin
  • youtube

Categories

Anything Channel Favorite Geophysics Thought Youtube books review skincare

Popular Post

  • Plan A and Plan B
    Banyak orang yang ketika akan mengambil keputusan selalu menyiapkan cadangan. Aku salah satu dari sekian banyaknya orang itu. Ketika akan m...
  • Bukan Sekedar Kampanye
    Saya bukan anggota partai atau salah satu pendukung partai tertantu yaa, tetapi hanya mengeluarkan pendapat mengenai kondisi saat akan pemi...
  • Sad or Happy
    Terkadang ada hal yang tidak bisa kita handle dan mengalir begitu saja. Mungkin logika mengatakan TIDAK tapi secara tidak sadar kita menguc...
  • Apa kabar Bapak Mama
    Pagi tadi nonton salah satu siaran di Trans ehh.. entah mengapa tiba tiba saja teringat papa sama mama. Pas ingat mau nulis kenangan apa aj...
  • PULANG
    Judulnya sesuai dengan buku yang baru saja saya baca, Yaa buku Tere Liye. Buku terbitan tahun 2015 dan cetakan pertama di bulan september, ...

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Agustus 2022 (1)
      •  Hello...I just realized that I never updated this...
  • ►  2020 (3)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Januari 2020 (2)
  • ►  2019 (20)
    • ►  Agustus 2019 (3)
    • ►  Juli 2019 (2)
    • ►  April 2019 (4)
    • ►  Maret 2019 (6)
    • ►  Februari 2019 (1)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (20)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Agustus 2018 (3)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  April 2018 (10)
    • ►  Maret 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (2)
  • ►  2017 (8)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (2)
    • ►  Juli 2017 (3)
    • ►  Mei 2017 (2)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates